Ratusan Hektar Lahan Gambut di Koltim Terbakar, 9 Desa Terdampak, Kabut Asap Tutupi Jalan

Sultranesia
2 Min Baca
Ratusan Hektar Lahan Gambut di Koltim Terbakar, 9 Desa Terdampak, Kabut Asap Tutupi Jalan
Kebakaran lahan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra). Foto: Dok. Istimewa.

Kolaka Timur - Kebakaran lahan melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra). Ratusan hektar lahan yang terdiri dari gambut, hutan, hutan pinus, perkebunan hingga kawasan taman nasional dilalap api.

Kebakaran yang berlangsung di tengah musim kemarau panjang itu tak hanya menghanguskan lahan. Kepulan asap juga mulai mengganggu aktivitas warga dan pengguna jalan.

Kabut asap dilaporkan menyelimuti sejumlah permukiman di sekitar lokasi kebakaran. Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di jalur Trans Sulawesi, asap menutupi badan jalan hingga mengganggu jarak pandang pengendara.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Koltim, kebakaran telah terjadi sejak 5 Agustus 2026. Titik api pertama terdeteksi di Desa Wesalo dan Kelurahan Tinengi.

Hingga Kamis (10/9/2026), sedikitnya sembilan desa dan kelurahan terdampak akibat kebakaran tersebut.

Kepala BPBD Koltim, Dewa Made Ratmawan, menyebut luas lahan gambut yang terbakar telah mencapai sekitar 205 hektare.

"Sampai dengan hari ini, data yang sudah kami lakukan rekapitulasi luasan itu sekitar 205 hektar lahan gambut yang terbakar," kata Dewa Made Ratmawan, Kamis (10/9).

Upaya pemadaman bukan perkara mudah. Petugas di lapangan harus berhadapan dengan kondisi cuaca yang kering, hembusan angin kencang, serta keterbatasan sumber air.

"Kendala di lapangan itu cuaca, kondisinya kering dengan angin yang sangat kencang. Terus sumber-sumber air. Khususnya yang ada di Desa Tesio ini sumber airnya sangat susah kami dapat," ungkapnya.

Bahkan, keterbatasan air membuat petugas harus melakukan upaya manual untuk mendapatkan sumber air.

"Personel kami bahkan beberapa hari penanganan sampai harus melakukan penggalian sumber-sumber air secara manual menggunakan tangan atau cangkul. Itupun sumber airnya sangat terbatas," sambungnya.

Dengan kondisi tersebut, BPBD Koltim memperkirakan penanganan kebakaran tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.

Dewa Made bahkan mengaku pesimistis api dapat sepenuhnya ditangani hanya dalam satu atau dua hari. Penanganan diperkirakan masih berlangsung hingga beberapa hari ke depan, bahkan bisa mencapai satu pekan.

"Kalau melihat kondisi ini, kami pesimis penanganan kebakaran ini bisa selesai satu dua hari, bisa sampai berhari-hari, atau bahkan sampai seminggu ke depan masih akan melakukan penanganan. Kecuali Tuhan Yang Maha Esa mendengar doa kami dengan menurunkan hujan," ujarnya.

Untuk mempercepat penanganan, BPBD Koltim mengerahkan seluruh personel yang dimiliki. Sejumlah pejabat setingkat kepala bagian (Kabag) dan kepala seksi (Kasi) turut diterjunkan ke lapangan.

Upaya pemadaman juga mendapat dukungan dari TNI, Polri serta Manggala Agni.


Editor: Andise SL

Berita BerikutnyaPemprov Sultra Resmi Serahkan Penanganan Aset Ummusshabri dan Nanga-nanga ke Kejati
Bagikan:

Baca Juga